Selasa, 26 April 2011

WOW...UMMU ABDUL AZIZ


Kisah yang satu ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyak potret kehidupan seorang wanita muslimah yang begitu bangga dan merasa sangat terhormat dengan agama yang selama ini telah hadir mewarnai perjalanan hidupnya. Seorang muslimah yang di hatinya terdengar keras detak syi’ar agama Allah. Itulah hati yang mampu mengenal Allah dan Rasul-Nya sehingga keraguan tak pernah lagi dijumpai di dalamnya. Dialah sosok seorang wanita muslimah yang hatinya selalu memikul tanggung jawab dakwah. Namun sayang, figur semacam ini ternyata sangat langka untuk kita temukan. Ya, memang sangat langka sekali.
Ummu Abdul Azizi, begitulah wanita ini biasa disapa dalam kesehariannya. Suaminya seorang dokter yang tinggal di kota Riyadh, Saudi Arabia.
Pada satu kesempatan, Ummu Abdul Aziz harus  menyertai suaminya untuk menghadiri salah satu konferensi medis yang diselenggarakan di salah satu negara Eropa. Dengan langkah pasti ia iringi keberangkatan sang suami. Ya, ia sadar sekali bahwa Tuhan yang selama ini ia sembah di negaranya tak lain adalah Tuhan yang akan ia jumpai di negara Eropa tersebut. Tuhan yang satu, Allah. Demikian pula kaum pria yang ia jumpai di negara tersebut, layaknya kaum pria yang dijumpainya di negara asalnya, Arab Saudi. Oleh karena itu, setibanya di negara tujuan, kondisinya tidak berubah sedikitpun.
Komitmennya untuk senantiasa melaksanakan segala perintah Tuhannya selalu ia pegang dengan baik. Hal ini nampak terlihat jelas dari cara ia berpakaian. Potongan kain yang dikenakannya menutupi seluruh anggota tubuhnya. Ya, Ummu Abdul Aziz mengenakan pakaiannya secara lengkap sehingga tak sedikitpun anggota tubuhnya yang dapat terlihat oleh pandangan mata, meskipun kini ia sedang berada di salah satu negara di Eropa. Selama berada di sana, ia jalani aktivitas kesehariannya sebagaimana biasanya, menyertai sang suami sepanjang konferensi tersebut. Sementara dirinya mengenakan pakaian serba hitam dimana tak sedikitpun bagian dalamnya yang mampu terlihat oleh orang lain. Oleh karenanya, wajar apabila masyarakat Eropa yang menjumpainya merasa heran dengan pemandangan asing seperti ini. Ia pun mulai menjadi pusat perhatian. Semua mata tertuju padanya seakan-akan ia bertanya, “Makhluk apakah yang ada di balik kain hitam ini?” benar-benar pemandangan yang sungguh aneh bagi mereka.
Pada suatu hari, beberapa wanita Eropa berkumpulmendatanginya. Rata-rata mereka adalah para profesor yang bisa dibilang sudah cukup berumur. Dialog pun akhirnya berlangsung di antara mereka, (kebetulan Ummu Abdul Aziz mampu berbahasa Inggris). Dengan begitu beraninya, salah seorang dari mereka mengajukan sebuah pertanyaan, “Kamu pasti berpenampilan seperti ini hanya untuk menyembunyikan cacat yang ada di badanmu, bukan? Atau mungkin sekedar untuk menutupi wajahmu yang nampak tidak cantik???” ya, kiranya gambaran semacam inilah yang selama ini tertanam di benak mereka ketika menemui kondisi seperti ini. Ummu Abdul Aziz langsung membawa mereka ke salaah satu sudut ruangan, lalu ia buka cadar yang selama ini menutupi wajahnya. Ternyata ia nampak seperti wanita normal pada umumnya, tanpa ada cacat sedikitpun sebagaimana yang mereka duga sebelumnya. Bahkan mungkin parasnya nampak lebih berseri dan cantik dari wanita biasanya, insyAllah. Kesempatan ini tentu tidak ia biarkan berlalu begitu saja.
Setelah memperlihatkan wajahnya, Ummu Abdul Aziz langsung mulai masuk ke pembicaraan inti. Ia jelaskan kepada mereka bagaimana Islam memposisikan wanita. Ia paparkan sejauh mana penghormatan dan apresiasi agama Allah ini terhadap kaum hawa selain ia berikan gambaran tentang ajaran agama Islam secara umum. Tahukah apa yang terjadi setelah itu? Ya, setelah tiga jam berlalu sebanyak tujuh dari sepuluh orang profesor tadi langsung mengikrarkan keislaman mereka!!! Tak lain adalah karena Ummu Abdul Aziz!!! Bayangkan! Tujuh orang profesor masuk Islam hanya dalam waktu tiga jam setelah melakukan dialog. Sebagai seorang muslimah, Ummu Abdul Aziz tak pernah merasa asing dengan ajaran agama yang selama ini telah menemani setiap langkah kehidupannya. Ia pun tidak merasa canggung ataupun minder untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang muslimah berkebangsaan Arab. Tak sekalipun ia berfikir bahwa Islam merupakan sebuah aib yang harus diasingkan jauh-jauh dari dirinya. Meskipun ia sedang berada di negara Eropa, namun tak pernah terbersit di benaknya untuk menanggalkan pakaian muslimah yang selama iniia kenakan untuk kemudian diganti dengan pakaian pressbody yang ekstra ketat dengan bordiran dan renda di sana-sini, untuk kemudian bergabung dengan kehidupan masyarakat tersebut. Kehadirannya di negara pengusung paham liberalisme yang jauh dari tata nilai sosial tersebut tidak mengantarkannya kepada kehinaan layaknya sebuah barang murahan.
Tujuh orang profesor wanita menyatakan keislaman mereka. Allah pun meninggikan derajat mereka dengan agama ini. Agama yang selama ini menjadi satu kebanggan tersendiri bagi sosok seperti Ummu Abddul Aziz. Figur seorang da’i muslimah yang berusaha untuk mengajak umat ini kepada jalan Allah. Ia fungsikan dirinya sebagai media turunnya hidayah bagi siapa saja yang ia kehendaki. Dengan cara seperti inilah akhirnya ia mampu mengubah pandangan minor mereka terhadap agama yang Allah ridlai ini.
Laa ilaaha illallah...semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada dirimu, Ummu Abdul Aziz. Engkau jaga dirimu sehingga benar-benar bermanfaat bagi agama dan umat ini...amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar